Ilustrasi Artikel: Marifat adalah modalku
Ilustrasi AI

Bursa Efek Ketuhanan: Ketika Ma’rifat Menjadi Jaminan Pinjol dan Kurs Valuta Asing

Oleh: Arda Dinata

Pagi itu, di sebuah warung kopi yang dindingnya lebih banyak tambalan semen daripada catnya, Pak RT Munandar tampak sedang bersitegang dengan Kang Asep, pemilik warung. Masalahnya sepele bagi orang awam, namun fundamental bagi tatanan ekonomi baru di desa kami: Pak RT ingin membayar tiga gelas kopi hitam dan dua gorengan bukan dengan lembaran rupiah yang lusuh, melainkan dengan "getaran kalbu."

"Asep, kamu ini tidak progresif," ujar Pak RT sambil menyeruput sisa ampas kopi dengan wibawa seorang kurator seni. "Di era disrupsi spiritual ini, uang kertas itu sudah obsolete. Kuno. Sekarang, modal utama kita adalah Ma’rifat. Saya baru saja mencapai level maqam ketenangan tingkat kelurahan semalam. Nilai tukarnya lebih tinggi dari kurs Dollar terhadap Rupiah."

Kang Asep hanya melongo. Tangannya yang masih berminyak bekas menggoreng bakwan tertahan di udara. "Tapi Pak RT, grosir sembako di pasar tidak terima 'getaran'. Mereka mintanya uang yang ada gambar pahlawannya, bukan yang ada gambar 'nur ilahi' di kening Bapak."

Selamat datang di era baru. Di mana jargon "Ma’rifat adalah modalku" bukan lagi sekadar kutipan dari kitab-kitab kuning yang berdebu di perpustakaan pesantren, melainkan telah bertransformasi menjadi komoditas ekonomi paling likuid di bursa efek kehidupan. Jika dulu orang sombong karena saldo rekening di ATM, kini orang-orang bersaing memamerkan saldo "kesadaran kosmik" mereka di aplikasi Gnosis-Pay.

Fenomena ini bermula sejak pemerintah, yang entah karena sudah kehabisan akal mengurus inflasi atau memang terlalu visioner, meluncurkan peta jalan ekonomi "Transendensi 4.0". Dalam kebijakan ini, Ma’rifat—pengetahuan mendalam tentang hakikat ketuhanan—diakui sebagai aset tak berwujud (intangible asset) yang bisa dijadikan agunan bank.

Maka, jangan heran jika Anda masuk ke kantor bank pemerintah hari ini, Anda tidak akan ditanya soal slip gaji atau sertifikat tanah. Petugas kredit, yang kini merangkap sebagai asisten mursyid, akan menatap mata Anda dalam-dalam selama sepuluh menit. Jika dia menemukan kilatan cahaya keikhlasan yang cukup stabil, pinjaman seratus juta rupiah akan langsung cair dengan bunga nol persen—karena bunga, menurut mereka, hanya akan mengotori kesucian modal ma’rifat Anda.

Namun, sebagaimana layaknya kapitalisme yang rakus, kesucian ini pun segera dikemas dalam kemasan sasetan.

Di Jakarta, para CEO startup kini tidak lagi bicara tentang burning money atau unicorn. Mereka bicara tentang burning ego. Sebuah startup baru bernama "Ma’rifat-Go" baru saja mendapatkan pendanaan seri C dari modal ventura di Silicon Valley. Model bisnisnya sederhana: menghubungkan orang-orang yang sedang galau dengan para "Ma’rifat-Preneur" yang menyewakan tingkat pencerahan mereka untuk menenangkan hati para investor yang sahamnya sedang anjlok.

"Modal kami bukan lagi keringat, tapi air mata pertobatan," ujar seorang Co-Founder startup tersebut dalam sebuah podcast yang disponsori oleh produsen sajadah ergonomis. "Satu liter air mata tobat setara dengan sepuluh lot saham di perusahaan tambang. Ini adalah demokratisasi surga."

Tentu saja, para politisi kita tidak mau ketinggalan kereta kencana ini. Menjelang musim pemilihan, baliho-baliho di pinggir jalan kini tidak lagi memampang janji-janji klise seperti "Membangun Jembatan" atau "Sembako Murah". Itu terlalu materialistik. Terlalu rendah.

Baliho raksasa di perempatan jalan kini menampilkan sosok calon legislatif dengan sorban yang berkilau hasil editan Photoshop tingkat dewa, dengan tulisan: "Pilih Saya! Modal Ma’rifat Sudah Mencapai Level 7. Dijamin Bisa Menembus Hijab Birokrasi dan Melipat Gandakan Keberkahan APBD Secara Metafisis."

Bahkan, ada desas-desus bahwa di gedung parlemen, rapat-rapat komisi kini tidak lagi menggunakan palu sidang. Ketua sidang cukup berdehem dengan frekuensi tertentu yang mampu menggetarkan cakra para anggota dewan. Jika semua anggota merasa "sefrekuensi", maka sebuah undang-undang dianggap sah secara lahir dan batin. Masalah apakah undang-undang itu berpihak pada rakyat atau tidak, itu urusan syariat. Yang penting secara ma’rifat, niatnya sudah tulus.

Namun, di tengah euforia modal spiritual ini, ada sisi gelap yang mulai mengintai. Munculnya "Ma’rifat Palsu" di pasar gelap. OJK (Otoritas Jasa Keuangan Spiritual) mulai kewalahan mendeteksi investasi bodong yang menggunakan skema Ponzi berbasis pahala.

Modusnya: masyarakat diminta menyetorkan sejumlah "dzikir" setiap hari ke sebuah aplikasi. Dijanjikan dalam tiga bulan, mereka akan mendapatkan dividen berupa "kasyaf" atau kemampuan melihat masa depan. Faktanya? Banyak warga yang sudah berdzikir siang-malam sampai serak, jangankan melihat masa depan, melihat tagihan listrik bulan depan saja sudah gemetaran.

Kembali ke warung kopi Kang Asep. Pak RT Munandar masih berusaha meyakinkan bahwa "Ma’rifat"-nya adalah modal yang sah.

"Begini saja Sep," Pak RT memberikan solusi pamungkas. "Kopi dan gorengan ini saya bayar dengan doa. Tapi bukan doa sembarangan. Ini doa level ma’rifat. Efeknya langsung ke jalur langit. Warungmu akan ramai, pembeli akan datang seperti laron mengerubungi lampu, dan yang paling penting, kamu akan merasa cukup meskipun uangmu tidak ada."

Kang Asep menghela napas panjang. Ia mengambil buku utang yang sampulnya sudah mengelupas. Di sana tertulis nama "RT Munandar". Di kolom jumlah, ia tidak menuliskan angka rupiah. Dengan sarkasme yang hanya dimiliki oleh rakyat kecil yang sudah kenyang janji, Kang Asep menulis: Dibayar dengan satu unit pencerahan semu.

"Sudah, Pak RT. Silakan pergi sebelum saya kehilangan 'kesadaran ma’rifat' saya dan melempar Bapak pakai ulekan sambal ini," kata Kang Asep datar.

Pak RT berlalu dengan langkah ringan, merasa telah berhasil melakukan transaksi paling cerdas abad ini. Ia berjalan pulang sambil bergumam tentang betapa indahnya dunia jika semua orang paham bahwa "Ma’rifat adalah modal utama".

Padahal, di saat yang sama, di ujung jalan, sebuah truk sampah lewat dengan tulisan besar di bak belakangnya: "Hanya Menerima Pembayaran Tunai, Tidak Menerima Kesucian Hati."

Begitulah kita hari ini. Kita begitu sibuk melangitkan modal spiritual hingga lupa bahwa kaki kita masih berpijak di bumi yang penuh dengan tagihan cicilan motor dan harga beras yang terus mendaki. Ma’rifat memang modal yang agung, tapi jika ia digunakan untuk menghindari bayar kopi, mungkin itu bukan ma’rifat, melainkan sekadar "mikir irit" yang dibungkus dengan bahasa langit.

Pada akhirnya, di bursa efek kehidupan yang penuh tipu daya ini, barang siapa yang menjadikan ma’rifat sebagai modal dagang, biasanya ia sedang bangkrut secara kemanusiaan. Sebab, ma’rifat yang sejati tidak pernah dipajang di etalase, apalagi dijadikan jaminan pinjol agar bisa gaya di media sosial.

Tapi ya sudahlah, saya harus berhenti menulis sekarang. Saldo "kebijaksanaan" di akun saya sudah mencapai batas minimum. Saya harus segera pergi ke gunung untuk melakukan top-up meditasi, agar besok pagi saya punya modal lagi untuk sekadar merasa lebih suci daripada Anda semua. Selamat ber-investasi di jalan sunyi, jangan lupa cek kurs keikhlasan hari ini di portal berita favorit Anda.

Tabik.