Ilustrasi Artikel: Peran air bersih dalam pencegahan stunting
Ilustrasi AI

Bening yang Menenun Tulang: Risalah Air dan Mimpi-Mimpi Kecil di Sudut Kota

Oleh: Arda Dinata

Di sebuah sudut yang tersembunyi dari gemerlap lampu Jakarta, di mana gang-gang sempit saling berhimpitan seperti jemari yang menggenggam cemas, suara itu terdengar setiap subuh. Krieeek... krieek... Suara tuas pompa besi tua yang dimainkan oleh tangan-tangan legam adalah musik pembuka hari di Kampung Muara. Di sana, air bukan sekadar cairan yang mengalir dari keran; ia adalah napas, ia adalah doa, dan bagi mereka yang paham, ia adalah penentu masa depan yang tersembunyi dalam pertumbuhan tulang-tulang mungil.

Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di atas permukaan sungai yang kecokelatan. Mak Inah (62), seorang perempuan dengan garis-garis wajah yang menceritakan ribuan senja, berdiri termangu di depan ember plastiknya yang berwarna kusam. Ia sedang menunggu antrean di sumur komunal. Matanya yang mulai merabun menatap cucunya, Elang, seorang bocah berusia tiga tahun yang sedang asyik bermain tanah di dekat kakinya.

Ada yang getir dalam tatapan Mak Inah. Elang tampak jauh lebih kecil dibandingkan kawan-kawan sebayanya. Kakinya kurus, perutnya sedikit buncit, dan sorot matanya, meski ceria, terkadang menyimpan kelelahan yang tak seharusnya dimiliki bocah sekecil itu. Di kampung ini, Elang adalah satu dari sekian banyak anak yang menjadi penyintas sunyi dari apa yang oleh orang-orang kota disebut sebagai "stunting".

Namun, bagi Mak Inah dan warga di sini, mereka tak mengenal istilah medis yang rumit itu. Mereka hanya tahu bahwa anak-anak mereka "susah tumbuh". Mereka tak menyadari bahwa di balik piring nasi yang mungkin mulai terisi protein, ada musuh tak kasat mata yang menyusup melalui gelas-gelas minum dan bak mandi yang keruh.


Pencuri Nutrisi di Balik Keruh

"Air itu hidup, Cu," bisik Mak Inah suatu kali kepada Sari, menantunya, saat mereka sedang merebus air yang warnanya tak pernah benar-benar bening. "Tapi kalau airnya sakit, kita pun ikut sakit."

Sari hanya mengangguk lelah. Sebagai ibu muda yang bekerja sebagai buruh cuci, hari-harinya dihabiskan dengan air. Namun, air yang ia gunakan untuk mencuci baju orang-orang kaya di perumahan sebelah sangatlah berbeda dengan air yang ia gunakan untuk menyeduh susu Elang. Di perumahan itu, air mengucur jernih, membawa aroma kaporit yang bersih. Di sini, air adalah hasil perjuangan menyaring sedimen dan menyembunyikan bau besi.

Kaitan antara air bersih dan stunting sering kali luput dari perhatian mata awam. Kita kerap menyangka stunting hanyalah soal piring yang kosong, soal kurangnya daging atau telur. Padahal, ilmu pengetahuan telah mendedah fakta pahit: nutrisi sehebat apa pun yang masuk ke dalam tubuh seorang anak akan menjadi sia-sia jika ia terus-menerus diserang oleh bakteri yang berasal dari air yang tercemar.

Diare berulang, infeksi cacing, dan gangguan pencernaan kronis adalah "pencuri" yang merampas gizi sebelum sempat diserap oleh tubuh untuk membangun sel-sel otak dan memperpanjang tulang. Di Kampung Muara, penyakit-penyakit ini dianggap sebagai tamu rutin, layaknya hujan yang selalu membawa banjir. Mereka tidak tahu bahwa setiap kali Elang terserang diare karena air yang tak higienis, pada saat itulah impian Elang untuk tumbuh setinggi kawan-kawannya sedang dipangkas secara perlahan.

Konteks inilah yang menjadi pergulatan batin para ibu di sudut-sudut kota. Mereka berada dalam lingkaran setan yang menyesakkan. Membeli air galon bermerek adalah kemewahan yang menyaingi harga satu kilogram beras. Akhirnya, pilihan jatuh pada air tanah yang kualitasnya kian merosot, terintrusi air laut dan tercemar limbah domestik dari tangki septik yang bocor di sana-sini.


Dinamika Emosi di Tepian Sumur

Suatu sore, sebuah keriuhan kecil terjadi di balai warga. Beberapa petugas kesehatan datang membawa alat uji air. Mereka mencelupkan sebuah alat kecil ke dalam gelas berisi air dari sumur Mak Inah. Hasilnya mengejutkan banyak orang: angka kontaminasi bakteri koliform melampaui batas yang bisa diterima akal sehat.

"Ibu-ibu," ujar salah satu petugas dengan suara lembut namun tegas, "Anak-anak kita tidak hanya butuh makan enak. Mereka butuh air yang tidak membuat perut mereka berperang setiap hari."

Sari, yang duduk di pojok ruangan, merasa dadanya sesak. Ia teringat betapa sering Elang meringis memegangi perutnya di tengah malam. Ia teringat betapa sering ia hanya membasuh botol susu Elang dengan air keran tanpa merebusnya dengan benar karena kayu bakar atau gas sedang langka. Ada rasa bersalah yang menusuk, sebuah duka yang tak terucapkan dari seorang ibu yang merasa gagal memberikan perlindungan paling dasar bagi buah hatinya.

Namun, di tengah kesedihan itu, muncul sebuah narasi harapan. Komunitas mulai bergerak. Melalui skema gotong royong dan bantuan penyediaan air minum berbasis masyarakat, sebuah instalasi penyaringan air sederhana mulai dibangun. Ini bukan sekadar proyek fisik; ini adalah proyek kemanusiaan. Ini adalah upaya merebut kembali masa depan anak-anak Muara dari cengkeraman kekerdilan yang dipaksakan oleh lingkungan.

Saya melihat Mak Inah ikut serta memanggul batu-batu kecil untuk fondasi tandon air. Di usianya yang senja, ia seolah menemukan energi baru. "Saya tidak mau Elang nanti jadi orang dewasa yang sulit mencari kerja karena fisiknya lemah. Biarlah saya yang lelah sekarang, asal dia bisa minum air yang bening," ucapnya dengan napas yang memburu.

Pembangunan tandon air itu menjadi metafora dari ketahanan sebuah komunitas. Setiap tetes keringat yang jatuh ke tanah seolah menjadi penebus atas tetes-tetes air keruh yang selama ini meracuni pertumbuhan anak-anak mereka. Ada sebuah dinamika emosi yang bergeser dari kepasrahan menjadi agresi positif—sebuah keinginan kolektif untuk memutus rantai kemiskinan dan malnutrisi.


Estetika Sebotol Air Bening

Waktu bergulir, dan perubahan itu mulai tampak pada detail-detail kecil yang estetis. Kini, setiap pagi, Sari tidak lagi membawa ember berat ke sumur jauh. Ada pipa kecil yang mengalirkan air yang telah difilter ke dekat rumahnya. Air itu tampak berkilau saat terkena sinar matahari pagi, memantulkan spektrum warna pelangi yang seolah menjanjikan kehidupan yang lebih cerah.

Elang kini punya kebiasaan baru. Ia suka menadahkan tangannya di bawah kucuran air itu, tertawa saat air dingin menyentuh kulitnya. Bagi seorang jurnalis yang sering melihat kemewahan di gedung-gedung pencakar langit, pemandangan seorang bocah bermain air bersih di gang sempit adalah kemewahan yang jauh lebih hakiki. Ada keindahan yang puitis dalam kejernihan air itu; ia adalah simbol martabat manusia yang paling murni.

Air yang bersih telah mengubah ritme hidup di Kampung Muara. Angka kejadian diare menurun drastis. Anak-anak tampak lebih bertenaga, kulit mereka tidak lagi kusam, dan yang paling penting, pertumbuhan mereka mulai menunjukkan grafik yang membaik. Elang mungkin tidak akan langsung tumbuh menjadi raksasa, namun setidaknya, tubuh kecilnya kini tidak lagi harus berperang melawan kuman setiap kali ia merasa haus. Energi dari makanannya kini bisa dialokasikan sepenuhnya untuk membangun jembatan-jembatan neuron di otaknya.

Ini adalah sebuah simfoni tentang bagaimana hal yang paling sederhana—molekul H2O—menjadi dirigen bagi orkestra pertumbuhan manusia. Tanpa air bersih, upaya pencegahan stunting hanyalah seperti membangun rumah di atas pasir hisap. Fondasinya akan selalu goyah, dan bangunan impian itu akan perlahan amblas ditelan bumi.


Refleksi: Sebuah Renungan Universal

Kita sering merenung tentang apa yang akan kita wariskan kepada generasi mendatang. Apakah harta, tanah, atau nama besar? Namun, setelah menyusuri lorong-lorong Kampung Muara dan menatap mata Mak Inah, saya menyadari bahwa warisan paling berharga yang bisa kita berikan adalah sebuah lingkungan yang memanusiakan manusia.

Air bersih adalah hak asasi yang paling purba. Ia mendahului hak untuk bersuara, hak untuk memilih, bahkan hak untuk berpendidikan. Sebab, bagaimana mungkin seorang anak bisa belajar dengan baik jika otaknya tidak mendapatkan nutrisi karena terus dikuras oleh infeksi? Bagaimana mungkin seorang pemuda bisa membangun bangsa jika tulangnya rapuh karena masa kecil yang didera kekurangan air bersih?

Stunting bukan hanya masalah medis atau statistik dalam laporan tahunan kementerian. Stunting adalah cermin dari ketidakadilan akses terhadap sumber daya alam yang paling dasar. Ia adalah sebuah teguran keras bagi kita yang tinggal di rumah-rumah dengan aliran air tak terbatas, yang sering kali membiarkan keran terbuka sia-sia saat menyikat gigi, sementara di luar sana, ada seorang nenek yang harus berhemat tetes demi tetes air demi masa depan cucunya.

Saat tulisan ini disusun, senja kembali turun di Kampung Muara. Saya melihat Sari sedang menyuapi Elang. Di samping mereka, ada segelas air bening yang berkilau terkena cahaya lampu pijar. Air itu tidak lagi membawa ancaman, melainkan membawa janji.

Mencegah stunting adalah tentang menenun kembali harapan yang sempat koyak. Ia dimulai dari hulu, dari perlindungan hutan-hutan kita, dari pengelolaan limbah yang bertanggung jawab, hingga sampai ke hilir di gelas-gelas plastik anak-anak kita. Kita sedang menanam benih masa depan, dan air adalah asupan utama yang akan menentukan apakah benih itu akan tumbuh menjadi pohon yang rimbun atau tetap menjadi perdu yang merana di bawah bayang-bayang ketidakpedulian.

Semoga, suatu hari nanti, tidak ada lagi anak seperti Elang yang pertumbuhannya terenggut oleh air yang kotor. Semoga beningnya air meresap ke dalam sumsum tulang mereka, menguatkan langkah mereka untuk menjemput dunia yang lebih baik. Karena pada akhirnya, di setiap tetes air yang bersih, mengalir kehidupan yang bermartabat—sebuah narasi abadi tentang cinta, ketahanan, dan hak untuk tumbuh dengan utuh.

Di balik gemericik air yang mengalir tenang di tandon Kampung Muara, saya mendengar sebuah pesan tanpa kata: Bahwa untuk menjaga rahim bumi, kita harus menjaga apa yang mengalir darinya. Sebab di sana, mimpi-mimpi kecil sedang ditenun menjadi kenyataan.

Jakarta, 2026