URBANA
Menanam Doa di Rahim Silikon: Mencari Makna ‘Pintar’ di Antara Algoritma dan Keringat
Oleh: Arda Dinata
Senja di pinggiran Jakarta tak pernah benar-benar menjanjikan ketenangan. Udara pekat oleh aroma aspal panas yang diguyur gerimis tanggung, menyisakan bau tanah yang purba sekaligus pengap. Di sudut sebuah gang sempit yang terjepit di antara dua gedung perkantoran mewah berbahan kaca reflektif, Pak Kusnan (62) masih tekun menyulut sebatang kreteknya. Tangannya yang pecah-pecah, menyerupai peta topografi yang kasar, memegang sebuah radio transistor tua yang suaranya gemeresik—beradu dengan riuh rendah klakson kendaraan yang terjebak macet.
Di hadapan Pak Kusnan, sebuah etalase kayu kusam berisi tumpukan sol sepatu, jarum-jarum besar, dan benang nilon hitam menjadi saksi bisu atas sebuah peradaban yang sedang bergeser. Namun, hari ini, pembicaraan di radionya tidak sedang membahas harga beras atau politik lokal. Suara penyiar dengan nada futuristik itu sedang mengupas tentang Artificial Intelligence (AI)—kecerdasan buatan yang konon bisa menulis puisi, mendiagnosis penyakit, hingga menggantikan peran-peran manusia di balik meja.
Pak Kusnan hanya terkekeh kecil, memperlihatkan deretan giginya yang menguning. "Pintar, katanya," gumamnya pelan, asap kretek mengepul membingkai wajahnya yang penuh kerutan. "Kalau mesin itu bisa tahu di mana titik paling sakit di tumit seseorang tanpa harus bertanya, barulah saya sebut dia pintar."
Di era ini, ketika kata "pintar" telah diculik oleh kode-kode biner dan algoritma silikon, apa artinya menjadi cerdas bagi orang-orang seperti Pak Kusnan? Bagi mereka yang hidup di garis retakan ekonomi, wong cilik yang setiap harinya bertaruh nasib pada ketangkasan jemari dan intuisi nurani?
Fragmen di Balik Cahaya Layar
Beberapa kilometer dari lapak Pak Kusnan, di sebuah warung kopi yang tersembunyi di balik riuhnya pasar tradisional, sekelompok anak muda—para pengemudi ojek daring—berkumpul. Mata mereka lekat pada layar ponsel yang berpendar. Di sana, mereka bukan hanya menunggu pesanan, tapi sedang bertarung melawan "algoritma."
Bagi mereka, AI bukan sekadar wacana teknis di ruang seminar, melainkan "Dewa yang Tak Terlihat." Dewa yang menentukan apakah hari ini mereka bisa membawa pulang susu untuk anak di rumah, atau hanya membawa lelah yang tak terbayar.
"Sistem sekarang makin pintar, Bang," ujar Jaka (24), salah satu pengemudi muda yang baru setahun merantau dari keheningan desa di Jawa Tengah ke kegilaan ibu kota. "Kalau kita meleng sedikit, atau performa turun, algoritma langsung 'menghukum'. Dia tahu kapan kita malas, kapan kita rajin. Tapi dia nggak tahu kalau tadi ban saya bocor atau saya harus berhenti sebentar karena Ibu menelepon dari kampung sambil menangis."
Di sinilah letak ironi yang menyayat. Di zaman kecerdasan buatan, manusia-manusia kecil ini dipaksa untuk bertindak seperti mesin agar tetap dianggap "pintar" oleh sistem. Kecepatan, presisi, dan efisiensi menjadi ukuran baru martabat manusia. Nilai-nilai kemanusiaan yang lamban—seperti rasa empati, kesabaran, atau sekadar bertegur sapa—sering kali dianggap sebagai hambatan teknis yang membuang waktu.
Namun, di tengah kepungan kecerdasan yang mekanis itu, masyarakat kelas bawah Indonesia menunjukkan jenis "kepintaran" lain yang tak akan pernah bisa direplikasi oleh barisan kode manapun: Kecerdasan Bertahan Hidup (Survival Intelligence).
Intuisi yang Tak Terprogram
Kepintaran wong cilik adalah kepintaran yang lahir dari himpitan. Ia tidak diajarkan di kelas-kelas coding atau pelatihan manajemen data. Ia tumbuh dari sisa-sisa harapan yang dipungut di jalanan.
Lihatlah Mbok Nah (58), seorang penjual jamu gendong yang masih setia berkeliling di kawasan perumahan padat. Mbok Nah tidak tahu apa itu Generative AI atau Large Language Models. Namun, ia memiliki data di kepalanya yang jauh lebih organik. Ia tahu persis siapa pelanggannya yang sedang kurang enak badan hanya dari cara mereka membuka pagar. Ia tahu racikan kunyit asam mana yang pas untuk seorang ibu muda yang baru melahirkan, yang sedang dirundung kesedihan baby blues.
"Mesin mungkin bisa kasih tahu resep jamu, tapi mesin nggak bisa kasih doa sambil menuang airnya," kata Mbok Nah dengan senyum tulus.
Kepintaran Mbok Nah adalah kepintaran "rasa." Di dunia yang semakin terautomasi, rasa menjadi komoditas paling langka. Kecerdasan buatan bisa meniru pola bicara manusia, tapi ia tidak memiliki "jiwa" (soul). Ia tidak memiliki sejarah rasa sakit, kegagalan, atau kerinduan. Bagi masyarakat bawah, menjadi pandai di jaman ini bukan berarti harus menguasai teknologi canggih, melainkan tetap menjaga kewarasan nurani agar tidak tergerus oleh mesin.
Bagi mereka, kepintaran adalah kemampuan untuk membaca tanda-tanda alam dan gejala sosial tanpa bantuan sensor digital. Seorang nelayan di pesisir utara Jakarta mungkin tidak butuh aplikasi prakiraan cuaca paling mutakhir jika ia sudah mampu membaca arah angin dari aromanya dan melihat pergerakan awan yang menyerupai sisik ikan. Itu adalah akumulasi pengetahuan yang diwariskan lewat keringat, bukan lewat unduhan data.
Antara Ancaman dan Harapan
Namun, kita tidak boleh menutup mata pada realitas yang getir. Narasi tentang "kecerdasan rasa" tidak serta-merta menyelamatkan mereka dari ancaman disrupsi. Ketika gerbang tol digantikan sensor, ketika buruh pabrik digantikan lengan-lengan robotik, dan ketika administrasi sederhana bisa dikerjakan oleh bot, wong cilik berada di barisan terdepan yang terancam terlempar dari roda ekonomi.
Inilah tantangan besar bagi bangsa ini. Bagaimana menjadikan teknologi sebagai "pelayan" bagi kemanusiaan, bukan "tuan" yang menyingkirkan mereka yang tak berdaya. Menjadi pandai bagi masyarakat kecil bukan lagi soal mengejar gelar akademik, melainkan bagaimana beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
Di sudut kota yang lain, saya menemui sekelompok ibu-ibu di kampung deret yang mulai belajar menggunakan aplikasi desain sederhana untuk memasarkan produk keripik tempe mereka. Mereka tidak mengerti konsep Prompt Engineering, tapi mereka tahu bahwa gambar yang cantik di layar ponsel bisa mendatangkan pembeli dari tempat yang jauh.
"Kami ini gaptek, Mas. Tapi kalau nggak belajar sedikit-sedikit, ya mati," kata Siti, salah satu ibu rumah tangga di sana. Mereka menggunakan AI bukan untuk menjadi pakar teknologi, tapi untuk menyambung napas ekonomi keluarga. Bagi mereka, teknologi adalah alat bantu, seperti halnya cobek di dapur atau cangkul di ladang.
Inilah "Kepintaran Hibrida." Sebuah persilangan antara ketangguhan mental masyarakat agraris-tradisional dengan tuntutan dunia digital. Mereka tidak melawan arus, tapi belajar menari di atas gelombang.
Filosofi Gelas yang Retak
Kembali ke lapak Pak Kusnan. Langit Jakarta sudah berubah warna menjadi ungu kehitaman. Lampu-lampu jalan mulai menyala, memantulkan bayangan pada genangan air hujan. Seorang pemuda berjas rapi, wajahnya tampak kusut, berhenti di depan lapak Pak Kusnan. Ia menyodorkan sepasang sepatu pantofel mahal yang haknya lepas.
"Bisa dibetulkan sekarang, Pak? Saya ada pertemuan penting besok pagi," tanya si pemuda dengan nada cemas.
Pak Kusnan mengambil sepatu itu, membolak-baliknya dengan saksama. Matanya yang mulai lamur mendadak tajam. "Ini bukan cuma lepas haknya, Mas. Kulitnya sudah mulai rapuh karena jarang dirawat. Sama seperti hidup, kalau cuma dipakai lari terus tanpa pernah diurus, ya pasti rontok."
Si pemuda terdiam. Kalimat Pak Kusnan barusan bukan sekadar diagnosis tukang sol sepatu. Itu adalah sebuah "pencerahan" yang tidak bisa diberikan oleh algoritma pencarian manapun. Ada kebenaran eksistensial yang hanya bisa keluar dari mulut seseorang yang sudah menelan banyak garam kehidupan.
Di sinilah letak kemenangan wong cilik. Mereka memiliki narasi. Mereka memiliki cerita yang tidak linear. AI bekerja berdasarkan probabilitas dan kepastian statistik, sementara hidup manusia penuh dengan ketidakpastian yang indah. Menjadi pandai bagi orang kecil di Indonesia adalah menjadi sosok yang tetap "utuh" di tengah dunia yang terfragmentasi menjadi data-data digital.
Renungan di Ambang Malam
Seiring malam yang semakin larut, kita dipaksa untuk merenung kembali: Apa gunanya kecerdasan jika ia menjauhkan kita dari sesama? Apa gunanya mesin yang bisa menjawab segala tanya, jika ia menghilangkan kemampuan kita untuk bertanya tentang makna penderitaan orang lain?
Indonesia yang luas ini tidak hanya diisi oleh para ahli IT di menara gading atau para pembuat kebijakan di kantor kementerian. Indonesia digerakkan oleh jutaan Pak Kusnan, Mbok Nah, dan Jaka yang setiap hari harus bernegosiasi dengan takdir.
Pintar di jaman AI bagi mereka adalah sebuah bentuk perlawanan sunyi. Perlawanan terhadap upaya mekanisasi manusia. Mereka tetap pandai dengan cara yang paling fundamental: dengan tetap merasa lapar akan keadilan, tetap merasa haus akan persaudaraan, dan tetap merasa cukup dengan apa yang bisa diusahakan hari ini.
Mungkin, kita yang merasa "modern" inilah yang sebenarnya perlu belajar kembali kepada mereka. Belajar bahwa kecerdasan yang sesungguhnya tidak terletak pada seberapa cepat kita mengolah informasi, melainkan seberapa dalam kita memahami esensi menjadi manusia.
Pak Kusnan mulai merapikan perkakasnya. Ia memasukkan jarum-jarumnya ke dalam kotak kayu, lalu mengunci etalasenya. Radio transistornya masih menyiarkan berita tentang masa depan dunia yang akan dikendalikan oleh mesin cerdas. Pak Kusnan mematikannya. Kesunyian pun tumpah.
"Dunia boleh jadi makin pintar," ucapnya sambil melangkah pulang, "tapi Gusti Allah tidak pernah tidur di dalam kode-kode itu. Dia ada di sini," lanjutnya sambil mengetuk dadanya sendiri.
Langkah kaki Pak Kusnan menghilang di kegelapan gang, meninggalkan aroma kretek dan sisa-sisa doa yang menggantung di udara. Di atas sana, gedung-gedung pencakar langit masih bersinar dengan lampu-lampu LED-nya, mengirimkan ribuan terabita data ke angkasa. Namun di bawah sini, di bumi yang basah, kehidupan yang jujur masih terus berlanjut—tak terpetakan oleh algoritma, tak tersentuh oleh imajinasi silikon, namun tetap abadi dalam denyut kemanusiaan yang paling murni.
Menjadi pandai ternyata bukan tentang seberapa banyak kita tahu, tapi seberapa besar kita peduli. Dan di negeri ini, di pundak para wong cilik, kepintaran itu masih tersimpan rapi—seperti permata yang tersembunyi di balik tumpukan jerami, menanti untuk ditemukan kembali oleh kita yang sering kali tersesat di rimba informasi yang hampa.
Malam telah jatuh sepenuhnya. Jakarta tetap bising, tapi di sudut hati yang paling dalam, kita tahu: selama manusia masih bisa menangis dan berbagi sepotong roti, kecerdasan buatan hanyalah sebuah alat musik, dan manusialah yang akan tetap menjadi penggubah lagunya. Lagu tentang keringat, tentang doa, dan tentang kebanggaan menjadi manusia yang merdeka di tanahnya sendiri.
SELESAI
Komentar (0)
Posting Komentar