RUBRIK URBANA – ARDA NEWS
Lansekap Sunyi di Atas Batu-Batu Granit: Tentang Bandung yang Berbenah Membasuh Luka
Oleh: Arda Dinata
Gerimis tipis baru saja membasuh aspal Jalan Asia Afrika, Bandung, menyisakan aroma petrichor yang berkelindan dengan bau kopi dari kedai-kedai tua di sudut Braga. Di bawah pendar lampu jalan bergaya Art Deco yang kekuningan, permukaan granit yang baru saja terpasang itu tampak berkilau, memantulkan bayangan gedung-gedung kolonial yang masih kokoh berdiri menantang zaman. Di sana, di atas bidang-bidang batu yang tertata rapi, sebuah babak baru dari kehidupan warga kota sedang dipentaskan tanpa naskah.
Seorang lelaki tua, Pak Usep (67), tampak duduk termenung di salah satu bangku besi tempa yang kini menghiasi trotoar. Jemarinya yang keriput dengan lembut mengusap permukaan dingin kursi itu. Baginya, trotoar ini bukan sekadar urusan proyek dinas pekerjaan umum atau perdebatan anggaran di ruang rapat DPRD yang dingin. Trotoar ini adalah panggung ingatan.
"Dulu, berjalan di sini seperti melintasi labirin kecemasan," bisik Pak Usep, suaranya parau tertelan deru mesin kendaraan yang melintas. "Kita harus bertarung dengan motor yang naik ke trotoar, lubang-lubang yang menganga seperti jebakan maut, dan pedagang yang berjejal hingga kita terlempar ke badan jalan. Sekarang, kaki saya seolah menemukan kembali martabatnya."
Kata 'martabat' yang diucapkan Usep terasa menggetarkan. Dalam narasi tata kota yang sering kali terjebak pada angka-angka teknis dan estetika visual semata, kita sering lupa bahwa trotoar adalah bentuk penghormatan paling dasar sebuah kota kepada manusianya. Menata trotoar bukan sekadar mengganti ubin yang pecah dengan batu alam, melainkan upaya memulihkan hak pejalan kaki yang selama puluhan tahun terabaikan oleh kegilaan mesin.
Melodi Taktil di Ujung Tongkat
Beberapa meter dari tempat Pak Usep duduk, seorang perempuan muda dengan kacamata hitam bergerak perlahan. Namanya Rini. Ia adalah seorang tunanetra yang setiap hari harus melintasi kawasan pusat kota untuk menuju tempat kerjanya di sebuah panti pijat tunanetra. Ujung tongkat putihnya mengetuk-ngetuk barisan ubin kuning yang menonjol—guiding block atau ubin pemandu.
Bagi Rini, penataan trotoar di Bandung belakangan ini adalah sebuah kemerdekaan kecil. "Bunyi ketukan tongkat saya di atas ubin kuning ini adalah melodi keamanan," ujar Rini tersenyum. Sebelumnya, garis kuning itu sering kali terputus tiba-tiba, atau lebih parah lagi, menabrak tiang listrik dan pohon. Penataan yang lebih teliti di beberapa ruas jalan utama Bandung kini memberinya ruang untuk bernapas tanpa rasa takut tersesat atau terbentur benda keras yang tak terduga.
Namun, estetika pualam dan kemudahan taktil ini bukannya tanpa luka. Di balik keindahan trotoar yang kini menyerupai jalan-jalan di Eropa, ada fragmen kehidupan yang tergeser. Penataan lingkungan kota selalu membawa dialektika antara ketertiban dan keberlangsungan hidup rakyat kecil.
Di sudut lain, di balik bayang-bayang pohon Mahoni yang meranggas, seorang pedagang cuanki keliling tampak menatap nanar ke arah trotoar yang kini bersih dari pedagang kaki lima (PKL). Ruang yang kini luas dan elegan itu adalah zona terlarang baginya untuk menetap. Ia harus terus bergerak, menjadi pengelana abadi di atas keindahan yang tak ramah bagi gerobaknya. Di sinilah letak ironi dari sebuah kota yang sedang bersolek: kecantikan sering kali menuntut pengorbanan dari mereka yang dianggap 'noda' dalam bingkai foto-foto instagramable.
Arsitektur Rasa dan Memori
Bandung memang sedang mencoba merebut kembali julukan Parijs van Java. Trotoar-trotoar di sepanjang Jalan Ir. H. Djuanda (Dago), Cipaganti, hingga kawasan Riau, kini berubah menjadi ruang publik yang cair. Anak-anak muda berkumpul, seniman jalanan memetik gitar, dan keluarga-keluarga kecil berjalan santai di sore hari.
Ada perubahan perilaku sosiologis yang menarik untuk diamati. Ketika sebuah ruang publik ditata dengan apik dan estetis, orang-orang cenderung bersikap lebih sopan. Kita jarang melihat sampah berserakan di atas trotoar granit yang bersih. Seolah-olah keindahan batu-batu itu memaksa nurani setiap orang untuk menjaga kehormatannya.
"Kota yang manusiawi adalah kota yang membiarkan warganya berjalan kaki tanpa merasa kecil hati," ujar seorang pengamat tata kota yang saya temui di sebuah kafe di jalan Braga. Ia benar. Berjalan kaki adalah aktivitas demokratis. Di trotoar, tidak ada perbedaan antara direktur yang memakai sepatu kulit mahal dan mahasiswa yang memakai sandal jepit. Mereka berbagi oksigen yang sama, menapak di level ketinggian yang sama, dan menghadapi angin yang sama.
Penataan trotoar di Bandung, dengan segala kontroversi pembiayaan dan pelaksanaannya, sebenarnya sedang merajut kembali kohesi sosial yang sempat robek. Trotoar yang lebar menyediakan ruang bagi perjumpaan—sesuatu yang sangat langka di kota yang didominasi oleh kotak-kotak kaca kendaraan pribadi. Di atas trotoar, kita kembali menjadi manusia sosial, bukan sekadar angka dalam statistik kemacetan.
Senja yang Berbisik di Sudut Kota
Waktu beranjak menuju temaram. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menciptakan suasana melankolis yang khas Bandung. Di sepanjang Jalan Braga, deretan kursi kosong seolah menanti siapa saja untuk duduk dan bercerita.
Namun, tantangan terbesar dari penataan lingkungan ini bukanlah pada proses pembangunannya, melainkan pada 'perawatannya'. Sering kali, kita hebat dalam memulai, namun payah dalam memelihara. Batu-batu granit itu akan retak, ubin taktil itu mungkin akan lepas, dan tanaman di pot-pot besar itu bisa layu jika kita menganggap pembangunan selesai saat pita peresmian digunting.
Lebih dari itu, perawatan yang paling hakiki adalah perawatan terhadap 'ruh' dari trotoar itu sendiri. Jangan sampai trotoar yang indah ini hanya menjadi pajangan mati yang tidak memberikan manfaat bagi mobilitas warga secara keseluruhan. Konektivitas antarruang harus dipikirkan, agar trotoar bukan sekadar pulau-pulau keindahan yang terisolasi, melainkan urat nadi yang menghubungkan satu denyut kehidupan ke denyut lainnya.
Saya melihat seorang ibu menggandeng anaknya yang masih balita. Sang anak berlari-lari kecil di atas trotoar yang rata, tanpa takut tersandung. Tawa renyahnya pecah di antara bising kendaraan. Di momen sekecil itu, saya menyadari bahwa kebahagiaan warga kota sebenarnya sangat sederhana: ruang yang aman, udara yang bisa dihirup, dan kesempatan untuk menikmati kotanya sendiri tanpa rasa waswas.
Sebuah Renungan di Balik Langkah
Bandung adalah sebuah puisi yang sedang ditulis ulang. Setiap jengkal trotoar yang diperbaiki adalah satu bait baru yang mencoba memperbaiki kesalahan ejaan di masa lalu. Kota ini sedang belajar untuk lebih mencintai manusianya daripada mesin-mesinnya.
Memang, perjalanan menuju kota yang ideal masih sangat jauh. Masih banyak trotoar di pinggiran kota yang hancur, masih banyak hak pejalan kaki yang dirampas oleh egoisme pengguna jalan lain. Namun, apa yang terjadi di pusat kota hari ini adalah sebuah purwarupa harapan. Sebuah pernyataan bahwa perubahan itu mungkin terjadi.
Ketika saya melangkah meninggalkan kawasan Asia Afrika, saya sempat menoleh ke belakang. Pak Usep masih duduk di sana, kini ia sedang berbincang dengan seorang anak muda yang membawa kamera. Perbedaan usia puluhan tahun itu seolah luruh dalam sebuah percakapan hangat di atas bangku trotoar. Ruang publik telah menjalankan tugasnya: mempertemukan yang asing, mendekatkan yang jauh.
Lansekap sunyi di atas batu-batu granit itu kini tidak lagi sunyi. Ia mulai berbisik tentang masa depan yang lebih inklusif. Tentang sebuah kota yang tidak hanya mengejar kemajuan fisik, tetapi juga membasuh luka-luka sosialnya melalui penataan ruang yang empatik.
Bandung, dengan segala rupa trotoarnya yang baru, sedang mengajari kita satu hal penting: bahwa pembangunan sejati tidak diukur dari seberapa tinggi gedung pencakar langit menjulang, melainkan dari seberapa nyaman seorang tunanetra, seorang lansia, dan seorang anak kecil dapat melangkah di atas tanahnya sendiri.
Malam semakin larut. Gerimis telah benar-benar reda, meninggalkan jejak-jejak basah yang berkilau di atas hamparan granit. Di bawah langit Bandung yang biru gelap, saya terus melangkah, merasakan detak jantung kota yang kini terasa sedikit lebih tenang, sedikit lebih manusiawi. Di atas trotoar ini, kita tidak hanya sedang berjalan menuju sebuah tujuan fisik, tetapi kita sedang berjalan pulang menuju kemanusiaan kita yang sempat hilang di telan riuh rendah kota.
Esok pagi, matahari akan terbit dan menyinari batu-batu ini lagi. Ribuan kaki akan kembali menapak, ribuan cerita akan kembali terajut. Dan Bandung akan terus bersolek, bukan untuk pamer kemewahan, melainkan untuk memastikan bahwa setiap langkah warganya adalah langkah yang bermartabat. Karena pada akhirnya, sebuah kota bukanlah tentang tumpukan semen dan baja, melainkan tentang jiwa-jiwa yang hidup di dalamnya.
Dan di trotoar-trotoar inilah, jiwa Bandung itu sedang mencoba untuk tegak kembali.***

Komentar (0)
Posting Komentar